Get Adobe Flash player
JADWAL SHALAT  Subuh 04:35 WIB | Dzuhur 11:47 WIB | Ashar 14:59 WIB | Maghrib 17:49 WIB | Isya 18:54 WIB

HIKMAH

Hikmah Gelas Kopi Dibalik, Bersabar Dalam Cobaan

Cobaan akan terus datang sampai rasa cinta kita benar-benar telah mengkristal sehingga cinta kita kepada Allah benar-benar lebih utama dibandingkan dengan cinta-cinta yang lain.

Jumat, 14 Juni 2013 07:00 harlis kurniawan | hsn|
Hikmah Gelas Kopi Dibalik, Bersabar Dalam Cobaan
Ilustrasi kopi terbalik.
Jakarta, POL

SAHABAT, pernah minum kopi? Saya yakin kalian pernah minum kopi.

Hanya saja perbedaan minum kopi dulu dan sekarang di antaranya adalah cara meminumnya. Sekarang kita minum kopi instan dengan cangkir mahal di kafe yang bonafid. Padahal dulu orang-orang tua kita minum kopi hitam di warung kopi pinggir jalan sambil mengobrol banyak hal dengan teman-temannya.

Ada keunikan cara minum kopi orang zaman dulu. Ketika saya kecil bahkan saya sempat takjub melihat atraksi ajaib ini. Saya melihat orang tua dulu minum kopi dengan gelas terbalik di atas piring kecil yang berfungsi sebagai tatakan atau alas. Logika saya berhenti melihat keajaiban itu.

Saya coba mempraktekkan minum air biasa dengan gelas terbalik seperti di atas. Gelas berisi air pelan-pelan saya terbalikkan di atas piring kecil. Hasilnya, air di gelas pun tumpah. Berulangkali saya lakukan dan hasilnya pun sama.

Akhirnya saya memberanikan diri bertanya kepada seorang tua yang sedang minum kopi dengan gelas terbalik. Menurutnya, jika gelas berisi air langsung dibalik di atas piring kecil maka air akan tumpah.

Akan tetapi, jika piring kecil menutup gelas berisi air dengan rapat lebih dulu sebelum dibalik maka airnya tidak akan tumpah saat gelas dibalik dan bahkan saat posisi gelas sudah terbalik.

Rupanya inilah ilmu rahasia yang saya cari selama ini. Piring kecil harus menutup rapat gelas yang tidak terbalik lebih dulu sebelum nanti piring kecil menjadi alas bagi gelas yang terbalik.

***

Sahabat, tahukah kalian apa hikmah di balik fenomena di atas?

Sesungguhnya piring kecil di atas gelas berisi air adalah simbol rasa syukur atas nikmat Allah. Sementara itu, piring kecil di bawah gelas yang terbalik adalah simbol sabar atas penderitaan yang diberikan Allah.

Jadi, hikmah dari fenomena di atas adalah bahwa kita tidak akan pernah bisa bersabar atas penderitaan apabila kita tidak pernah bersyukur atas kenikmatan. Karena sesungguhnya nikmat yang Allah anugerahkan itu lebih banyak dari penderitaan yang Dia berikan kepada kita.

Sahabat, sesungguhnya kondisi orang yang beriman sangat mengagumkan. Mengapa? Karena kondisinya bisa selalu baik. Jika ia ditimpa kesulitan lalu bersabar, maka kesabaran itu akan menjadi kebaikan baginya.

Jika ia mendapat kenikmatan lalu bersyukur, maka kesyukurannya itu akan menjadi kebaikan baginya. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah,

“Alangkah mengagumkannya kondisi orang beriman, karena seluruh perkaranya adalah baik (dan hal itu hanya berlaku bagi orang yang beriman). Jika ia mendapatkan kenikmatan lalu bersyukur, maka syukurnya itu akan menjadi kebaikan baginya. Adapun jika ia mendapatkan kesulitan lalu bersabar, maka kesabarannya itu pun akan menjadi kebaikan baginya.” (HR Muslim)

Mengenai kesabaran, Allah berfirman,

 “Allah beserta orang-orang yang bersabar.” (al-Baqarah: 249)

Nabi saw. bersabda,

“Apabila Allah mencintai suatu kaum, maka mereka akan diberikan cobaan. Barangsiapa yang bersabar maka dia akan mendapat pahala yang besar. Akan tetapi, jika dia kesal, maka dia hanya akan mendapat kekesalan.” (HR Ahmad dan Tirmidzi)

 “Apa yang menimpa seorang muslim berupa kelelahan, kesulitan, kegelisahan, kesedihan, dan gangguan hingga duri yang menusuk tubuhnya, niscaya dengan itu Allah menghapus dosa-dosanya.” (Muttafaq alaih)

Adapun mengenai kesyukuran, Allah berfirman,

Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu ba­paknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah pa­yah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa, ‘Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertobat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.’” (al-Ahqaf: 15)

“Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” (Luqman:14)

Sudah sepatutnya kita memperbanyak syukur atas nikmat Allah. Itu sebabnya ada sebuah riwayat yang menyatakan bahwa orang miskin yang bersyukur lebih baik daripada orang miskin yang bersabar dan orang kaya yang bersabar lebih baik daripada orang kaya yang bersyukur.

Pertanyaan kemudian, sampai kapan cobaan Allah akan menghampiri mereka yang mencintai-Nya? Ternyata jauh-jauh hari Nabi Muhammad saw. telah mengantisipasi pertanyaan ini dengan sebuah jawaban yang jelas. Mengenai sampai kapan cobaan datang, beliau bersabda,

“…Cobaan itu akan selalu menimpa seorang hamba sampai ia berjalan di muka bumi ini tanpa melakukan suatu kesalahan.” (HR Ahmad dan Nasai)

Cobaan akan terus datang sampai rasa cinta kita benar-benar telah mengkristal sehingga cinta kita kepada Allah benar-benar lebih utama dibandingkan dengan cinta-cinta yang lain.

Pasalnya, rasa cinta yang besar kepada Allah dan Rasul-Nya adalah salah satu ciri utama bagi seorang mukmin (orang yang beriman) sebagaimana firman Allah,

“Adapun orang-orang yang beriman sangat besar cintanya kepada Allah.” (al-Baqarah: 165)

“Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dibanding (mencintai) diri mereka sendiri.” (al-Ahzab: 6)

 *) Inspirator/Penulis Kisah Hikmah  (HP 087788559509)

Dibaca 1250 kali

Tinggalkan komentar....